
Taktakala Uni Emirat Arab mulai membangun sejumlah proyek prestisius di Dubi, dunia usaha sejagat langsung terperanjat.
Bukan apa-apa, sebagai negara kaya akan minyak, dunia usaha sudah mafhum. Namun, bhawa Uni Emirat Arab mampu membangun aneka proyek spektakuler yang akan memjadi salah satu keajaiban dunia, public dari dari berbagai negara sungguh tak pernah menduga.
Proyek-proyek yang dibangun di Dubai antara lain sentra perdagangan, termasuk mal terbesar di dunia. Reklamasi pantai mencapai ratusan ribu herktar. Disana didirikan pusat perdagangan, jasa, pelabuhan, dan permukiman yang sangat luas. Yang menarik, semua sentra bisnis hasil reklamasi itu membentuk pohon palem khas di Timur Tengah. Jika dipandang dari daerah ketinggian atau dari pesawat, daratan itu tampak jelas keelokannya.
Para pelancong menyebut daratan baru itu sebagai karya puncak para ahli dari berbagai disiplin ilmu. Proyek prestisius lain yang mengagumkan adalah pembangunan gedung tertinggi, The Burj Dubai. Gedung 189 lantai itu akan menjadi symbol pencakar langit. Kuat dugaan, The Burj Dubai akan kuat bertahan selama 100 tahun sebagai gedung tertinggi.
Pertanyaan yang cukup relevan diajukan adalah mangapa Dubai membangun proyek property yang super mahal itu?? Ini tentu tiodak sekedar karena kemampuan financial, tetapi juga untuk kebanggaan serta kedigdayaan salah sati imperium Timur Tengah. Dubai kini meraih publikasi karena kehadiran proyek-proyek yang fantastis tersebut.
Sekarang siapa yang tidak tahu Dubai dan seperti apa hebatnya kerajaan itu. Malaysia juga meraih sukses membangun proyek properti. Tahun 1998 Malaysia sukses menuntaskan pembangunan gedung Petronas dengan tinggi 88 lantai. Gedung ini , karena plafonnya yang tinggi, pernah menjadi gedung tertinggi di dunia sampai Taipei membangun gedung 101 lantai dua tahun lalu.
Meski bukan lagi sebagai gedung tertinggi di dunia, Petronas masih menjadi benchmark serta symbol kebanggaan Malaysia dan tentu Kuala Lumpur. Gedung itu mengangkat Malaysia sebagai salah satu negara yang mampu membangun gedung berteknologi tinggi.
Ketika gedung kembar World Trade Center belem binasa, puluhan ribu orang datang ke gedung itu setiap harinya untuk melihat-lihat atau naik ke lantai tertinggi guna memandang kota New York.
Diluar, gedung-gedung tinggi tersebut, Menara Eiffel yang selesai dikerjakan tahun 1889 masih menjadi buruan para pelancong dari seluruh dunia. Para pelancong asing dan domestic tidak hirau pada tarif naik ke puncak Eiffel yang mencapai 10,7 uero (sekitar Rp 123.050). Mereka juga tidak mengeluh bahwa untuk tiba di pintu loket penjualan karcis harus antre antara satu sampai dua jam. Namun, itulah pesona gedung-gedung pencakar langit atau menara dunia. Sebab di puncak itulah pengunjung dapat melihat kota Paris yang demikian elok dan teratur. Jalannya oke, hijau pohonnya menawan, dan arsitektur gedungnya-kendati dilihat dari kejauhan-fantastis. Tidak heran kalau Paris acap disebut ibu kota arsitektur dunia, di samping Chicago.
Indonesia mampu
Delapan tahun ini Indonesia menghadapi persoalan moneter yang amat pelik. Subsidi bahan baker minyak saja mencapai Rp 9 Triliun per bulan. Kondisi financial yang cukup rumit ini otomatis tidak memungkinkan untuk membangun gedung-gedung tinggi seperti Petronas atau Jin Mao. Masih banyak yang harus diprioritaskan dari pada membangun gedung tinggi.
Ada pendapat tidak mudah memasarkan ruang-ruang gedung tinggi di Indonesia, tidak perlu latah dengan pembangunan gedung itnggi tersebut. Pendapat ini benar sepenuhnya, tetapi yang perlu diketahui, kalau kita mampu membangun gedung kembar 55 lantai, seperti yang tengah dibangun di kawasan Setiabudi, mengapa membangun gedung 110 lantai menjadi masalah yang rumit??
Mungkin ada baiknya jika masalah ini dicari jalan keluarnya. Jakarta kiranya cukup layak mempunyai gedung yang menjadi atap dunia. Gedung yang menjadi magnet untuk memdatangkan para pelancong dari seluruh dunia
Wkwkwkwk...
Kapan ya Indonesia punya gedung tertinggi??!!
Huahua...
Hidup aja susah bukan main...
Bagaimana tanggapannya ini?
Huehue...